Sabtu, 26 April 2014

Karangan Cerpenku : Rahasia Gunung Rinjani



Suhu yang dingin rasanya sangat menusuk tubuhku hingga tulang, tapi itu tak menghalangiku untuk menikmati pagi yang indah di puncak Gunung Rinjani. Hamparan awan tertata dengan rapi seakan-akan sang maha kuasa telah mengaturnya sebelum diperlihatkan kepadaku. Ditemani secangkir kopi hangat aku sangat menikmati pemandangan yang cantik nan indah ini. Setelah beberapa saat aku merasakan sakit di bagian perut, setelah aku mengingat kejadian tadi malam aku langsung teringat kalau perutku ini belum terisi apapun sejak kedatanganku ke tempat ini.
Tiba-tiba aku mendengar suara yang  tidak aku kenali memanggilku, setelah aku menoleh ke belakang aku melihat satu keluarga yang membuat tenda persis di samping tenda milikku, ternyata mereka menawarkanku untuk sarapan bersama mereka, tapi tanda tanya besar malah muncul di pikiranku, “Mengapa mereka menawarkan sarapan untukku ? Mereka bahkan sama sekali tidak mengenal aku !”. Tapi aku membuang semua pertanyaan itu jauh-jauh dari pikiranku, aku tidak tau mengapa, mungkin karna pada saat itu aku sangat lapar. Kemudian aku menghampiri mereka dan duduk di antara mereka. Sambil tersenyum ibu dari keluarga tersebut bilang kepada ku “Jangan malu-malu nak, anggap saja kami ini keluargamu”. Mendengar perkataan itu aku hanya bisa tersenyum.
Setelah kami selesai makan, kami melanjutkannya dengan sedikit mengobrol. “Oiya, kita belum berkenalan” kata Bapak. “Hehe, maaf pak saya lupa. Perkenalkan nama saya Rendi, saya dari Jakarta”. “Perkenalkan Ren, nama bapak Suparman, kamu bisa panggil bapak pak man”. Sambil tersenyum aku menjawab “Hehe, iya pak man”. “Kamu datang kesini dengan siapa ?” tanya pak man. “Saya kesini sendirian menggunakan pesawat dari Jakarta” jawabku. “ Apa kamu tidak takut ?” lanjut pak man. “Kenapa harus takut ? saya kan sudah dewasa, jadi kenapa harus takut !” jawabku dengan tegas. “Baguslah kalau begitu, bapak jadi ingin mempunyai anak pemberani seperti kamu”. “Ah.. bapak, bisa saja”jawabku.
Tiba-tiba, pertanyaan tadi yang sudah ku buang jauh-jauh kembali muncul dipikaranku. Tanpa pikir panjang aku langsung menanyakannya ke pak man “Pak, apa boleh saya bertanya sesuatu ?”. “Boleh, memangnya kamu mau menanyakan tentang apa ?” jawab pak man. ”Sebelumnya saya minta maaf kalau saya sudah bertanya seperti ini “. “Iya nak”. “Begini pak, saat bapak menawarkan saya sarapan tadi apa ada maksud tertentu atau bapak hanya iseng saja ?” “Oh itu..Bapak hanya ingin melakukan apa yang seharusnya bapak lakukan” jawab pak man. Aku merasa kebingungan denganjawaban pak man barusan, “Maksud bapak apa ?”. Pak man menjawabnya dengan enteng “Begini nak, saat di gunung kita harus membangun rasa kekeluargaan dengan pendaki yang lain agar kita semua merasa nyaman. Maka dari itu bapak menawarkan kamu sarapan untuk membangun rasa kekeluargaan tersebut”. Mendengar kata yang barusan keluar dari mulut Pak man hatiku terasa terketuk untuk membuat rasa kekeluargaan dengan pendaki lainnya, “Jadi itu alasan bapak mengajak saya sarapan bersama keluarga bapak. Saya mengerti sekarang”. Obrolan itu pun kami tutup dengan senyuman yang ku berikan kepada pak man. “Baiklah pak, saya permisi dulu ke tenda, terima kasih sudah memberi saya sarapan”, “Oh.. iya nak, sama-sama. Bapak juga berterima kasih kamu sudah mau sarapan dengan keluarga bapak” jawab pak man. Aku pun pergi meninggalkan pak man disana.
Saat  aku ingin masuk ke dalam tenda, aku melihat seseorang yang sepertinya sedang memancing di danau yang tercipta karna letusan gunung rinjani, lagi-lagi timbul pertanyaan dipikiranku, Mengapa orang itu memancing di danau yang aku ketahui  bernama Segara Anak itu ? apakah di danau yang berada di tempat yang tingginya sekitar 3726 m dpl seperti ini ada ikannya ?. Aku langsung menghampiri orang tersebut. “Permisi..”,“Iya mas, ada apa ?”jawab orang tersebut. “Maaf pak, orang sedang mincing ya ?” lanjutku. “Oh..iya mas saya sedang memancing, memangnya kenapa mas ? jawab orang itu. “Apakah disini ada ikannya pak ? saya rasa disini tidak ada ikan”. Orang itu tiba-tiba tersenyum kepada ku. “Kenapa anda tersenyum ? apa perkataanku barusan salah ya pak ?”. “Hehe, mas pikir disini tidak ada ikan ya ? pikiran mas itu salah, disini ada ikan walupun tidak sebanyak di danau lain”. “Oh jadi begitu ya”. Sebenarnya aku masih tidak percaya kalau disini ada ikannya, setelah beberapa menit kemudian aku melihat pancing orang itu melengkung di sambut dengan teriakan orang tersebut yang membuatku kaget. “Woowww... dapat..dapat..dapat”. Kemudian aku meliat seekor ikan yang diangkat ke permukaan dengan ukuran lumayan besar. “Lihat mas saya dapat satu ikan” kata orang itu. Aku menyambutnya dengan senyuman “Maaf, saya permisi dulu karena saya harus berkemas untuk turun hari ini”. “Oh iya mas, silahkan”.
Sesampainya di tenda aku langsung memasukan barang-barang ku ke tas ransel. Setelah semuanya beres, aku menyempatkan untuk melihat pemandangan disini satu kali lagi sebelum aku meninggalkan tempat yang indah ini. Setelah beberapa menit, aku langsung pergi meningglakan tempat itu. Sesampainya aku di bawah, aku langsung mencari mobil untuk membawaku ke penginapan terdekat.
Sekitar 30 minit aku mencari penginapan, akhirnya aku dapat juga. Aku tidak tau ini dimana , tapi aku tidak peduli yang penting aku bisa beristirahat dengan nyenyak. Aku bertemu dengan pemilik penginapan ini dan ia memberikan aku kunci kamar yang bernomor 8. Kemudian aku bergegas pergi ke kamar ku. Setelah aku masuk kamar, aku langsung mandi. Sekitar 10 menit aku pun selesai mandi, setelah aku memakai baju aku pun langsung tidur.
Keesokan harinya, aku bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta menggunakan pesawat. Aku sudah membeli tiketnya dari jauh hari. Aku pun keluar kamar lalu pergi ke pemilik penginapan untuk membayar uang sewa. Setelah itu, aku pun pergi meninggalkan penginapan tersebut dan mencari taxi untuk menghantarkan aku ke Bandara Internasional Lombok. Aku pun mendapatkan taxi. “Mau kemana mas ?” tanya supir taxi itu. “Bandara pak” jawabku. Di dalam taxi aku membayangkan pemandangan yang indah di gunung rinjani. Tak terasa begitu lama aku membayangkan pemandangan disana, tiba-tiba aku sudah tiba di bandara. Kemudian aku keluar taxi dan membayarnya. Sesampainya aku disana aku langsung masuk untuk check-in, setelah beberapa menit menunggu di ruang tunggu aku pun masuk ke dalam pesawat dan langsung terbang menuju Jakarta.
Sekitar 1 jam terbang, pesawat yang aku naiki akhirnya mendara di Bandara Soekarno Hatta. Setelah aku keluar bandara, aku langsung menaiki taxi yang ada disekitar bandara untuk menuju ke rumah. Sesampainya aku dirumah, aku disambut oleh ibu ku yang sudah menungguku di depan rumah. Melihat ibuku disana, dengan reflex aku langsung berlari memeluk ibu ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar